Monday, 29 June 2009

Ribuan Undangan Hadiri Peresmian Suramadu

Suramadu3

Menjelang peresmian jembatan terpanjang di Indonesia, Suramadu, ribuan undangan mulai memadati tenda raksasa sepanjang 100 meter dan lebar 50 meter di pintu tol masuk Suramadu sisi Madura, Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Bangkalan. Peresmian ini akan dihadiri sekitar 6500 undangan.

Sejak Rabu (10/6) pukul 07.00 deretan tamu undangan mulai antre menyemut memasuki pintu tenda sebelah utara. Para tamu undangan dijamu dengan berbagai macam hiburan mulai dari tari-tarian, musik khas Madura, dan ansamble.

Suramadu1

Tamu-tamu yang hadir dalam acara ini, antara lain Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Para gubernur seluruh Pulau Jawa, Bali, dan luar Jawa. Rencananya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan meresmikan Suramadu tepat pukul 10.00.Tempat peresmian dipusatkan di pintu tol Suramadu sisi Madura.

Suramadu2

Jembatan Suramadu Jelang Diresmikan – Jembatan penghubung Pulau Jawa dan Pulau Madura dengan panjang total 5.438 meter tersebut akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari ini (Rabu, 10/06/09).

Mur yang Hilang pada Pagar Pembatas Sepeda Motor Sudah Dipasang Ulang

Thursday, 18 June 2009 04:08

Hilangnya sebagian mur pada pagar pembatas sepeda motor di bentang tengah Jembatan Suramadu kini telah dipasang ulang. Jumlah mur yang hilang tersebut sekitar 13 buah. Agar hal itu tidak terulang kembali, pelaksana proyek akan mengelas mur yang menempel pada baut biar lebih rapat dan tidak hilang. Pengelasan itu merupakan bentuk kegiatan pemeliharaan jembatan dan bukan berarti pelaksanaan konstruksi proyek belum selesai.

Kasatker Bentang Tengah Jembatan Nasional Suramadu, Ir Atiyanto Busono mengatakan, mur yang hilang tersebut adalah ulah dari orang-orang yang iseng. Hilangnya mur tersebut terjadi saat jembatan dioperasikan secara gratis. Pada saat itu, akibat ramainya masyarakat yang ingin mengetahui jembatan secara langsung dan mereka pada berhenti di bentang tengah untuk berfoto atau yang lainnya. Sehingga ulah dari orang yang iseng dan kurang bertanggung jawab kurang terperhatikan. “Kegiatan pengelasan itu akan berlangsung selama seminggu,”katanya.

Dijelaskannya, mur yang hilang tersebut tidak akan mempengaruhi kekuatan konstruksi jembatan. Karena mur yang hilang terdapat pada pagar pembatas sepeda motor dan fungsi pagar tersebut sebagai pembatas keamanan pengendara. Akibat hilangnya mur tersebut, sebagian pagar pembatas goyang karena kurang kuat pengunciannya.

Selama setahun, Jembatan Suramadu masih dalam masa pemeliharaan oleh pihak kontraktor. Sehingga jika terdapat kejadian yang serupa, maka kontraktor yang akan langsung melakukan penanganan. Meski demikian, pihaknya berharap bahwa kejadian itu tidak terulang kembali demi menjaga kekuatan jembatan. Agar hal yang sama tidak terjadi, Jasa Marga selaku operator tol dan petugas kepolisian akan terus melakukan pengawasan dengan terus melakukan operasi pengamanan.

Tentang hilangnya 42 lampu pada jembatan, Atiyanto mengatakan, bahwa lampu yang hilang tersebut bukan lampu PJU (penerangan jalan umum) seperti yang selama ini diberitakan. Lampu tersebut adalah lampu penerangan pada Box Girder yang hanya dinyalakan saat petugas melakukan inspeksi pemeliharaan.

Lampu tersebut hilang karena pada saat jembatan dioperasikan secara gratis, petugas lupa mengunci pintu masuk Box Girder. Kemungkinan pada saat itulah terdapat orang mencuri lampu tersebut yang kebetulan pada waktu itu banyak masyarakat yang berhenti dibentang tengah. Meski harga lampu tersebut tidak mahal karena seperti lampu penerangan pada umumnya, namun dari pengalaman tersebut saat ini pengamanan pintu Box Girder makin diperketat.

Terhadap banyaknya masyarakat yang membuat tulisan maupun mencorat-coret Cable Stay yang berwarna merah dan bentuknya bulat. Ia mengharapkan agar hal itu tidak terulang kembali. Karena lapisan luar pada kabel tersebut fungsinya adalah sebagai lapisan pengaman dari karat dan pengeroposan. Apabila lapisan luar kabel tersebut mengelupas, maka lapisan dalam kabel akan mudah mengeropos dan mempengaruhi kekuatan kabel penyangga jebatan. Adapun jumlah kabel yang terdapat tulisan dan corat-coret sebanyak tiga buah kabel.

Ditambahkannya, setelah Jembatan Suramadu dioperasikan dengan memberlakukan tarif, masyarakat tidak diperkenankan lagi untuk berhenti di bentang tengah maupun jalur lainnya di sepanjang jembatan. Ini dilakukan karena jalan itu adalah jalan tol serta untuk menghindari beberapa hal yang tidak dinginkan agar tidak terjadi lagi. (Tim Suramadu)

K3 Suramadu


k3Proyek Pembangunan Jembatan Nasional Suramadu mempunyai tekad yang serius dan berkesinambungan untuk menyediakan sarana perlindungan keselamatan kerja, kesehatan dan lindungan lingkungan maupun kesejahteraan seluruh pekerja dan pihak lain yang mungkin terpengaruh oleh kegiatannya, dan mempunyai tujuan menciptakan suasana kerja yang aman, sehat dan mendidik sehingga terwujudnya Zero Accident di semua kegiatan dan lokasi proyek.

Dalam usaha mengelola keselamatan kerja di Proyek Suramadu ini menerapkan suatu program pengelolaan eselamatan kerja yaitu:

  1. Pemakaian Peraturan-Peraturan :
    • Policy Pengelola Proyek : Konsep-konsep dasar terlaksananya program keselamatan kerja di Proyek Suramadu.
    • Standar-standar : Syarat minimal praktek dan kondisi pelaksanaan pekerjaan yang harus dipenuhi.
    • Guidelines : Prosedur-prosedur pelaksanaan good safety practise.

  2. Safety Committee : Dalam hal ini HSE Engineer beserta Inspector lapangan yang membantu pemimpin proyek menyangkut persoalan keselamatan kerja.
  3. Safety Audit atau Inspeksi : Aktifitas pemeriksaan yang dilakukan secara periodik, khusus memperhatikan kegiatan dan kondisi yang ditemui diseluruh areal proyek Suramadu.
  4. Job Safety Analyses : Analisa detail semua elemen pekerjaan dengan menonjolkan resiko-resiko yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan.
  5. Safety Training Observation Program : Teknik mendidik dan membiasakan setiap pekerja untuk mengidentifikasi unsafe action dan unsafe condition yang ditemuinya.
  6. Safety Round : Kegiatan patroli gabungan tim K3 mengelilingi semua lokasi Proyek Suramadu
  7. Safety Induction : Penjelasan kepada pengunjung atau pekerja baru tentang kegiatan pelaksanaan K3.
  8. Good House keeping : Kebersihan dan keteraturan tempat kerja di Proyek Suramadu adalah faktor-faktor yang memberi gambaran sekilas mengenai karakter lingkungan kerja.
  9. Award Program : Memotivasi dan pengenalan atas usaha bersama yang telah berhasil memelihara tingkat keselamatan kerja yang tinggi di lingkungan Proyek Suramadu.
8
Tidak ada pekerjaan yang begitu pentingnya hingga kita tidak punya waktu untuk melakukannya dengan aman. Bekerja dengan aman adalah persyaratan di Proyek Pembangunan Jembatan Suramadu untuk setiap orang yang terlibat.

PDA Test

Pengujian Beban pada Tiang Pancang Baja

PDA test bertujuan untuk memverifikasikan kapasitas daya dukung tekan pondasi tiang pancang terpasang. Dari hasil-hasil pengujian akan didapatkan informasi besarnya kapasitas dukung termobilisir dengan faktor keamanan 2, dan dipakai untuk menilai apakah beban kerja rencana dapat diterima oleh tiang terpasang.

Pelaksanaan

Pengujian dilaksanakan sesuai ASTM D-4945, yang dilakukan dengan memasang dua buah sensor yaitu strain transduser dan accelerometer transduser pada sisi tiang dengan posisi saling berhadapan, dekat dengan kepala tiang. Kedua sensor tersebut mempunyai fungsi ganda, masing-masing menerima perubahan percepatan dan regangan. Gelombang tekan akan merambat dari kepala tiang ke ujung bawah tiang (toe) setelah itu gelombang tersebut akan dipantulkan kembali menuju kepala tiang dan ditangkap oleh sensor. Gelombang yang diterima sensor secara otomatis akan disimpan oleh komputer. Rekaman hasil gelombang ini akan menjadi dasar bagi analisa dengan menggunakan program TNOWAVE-TNODLT, di mana gelombang pantul yang diberikan oleh reaksi tanah akibat kapasitas dukung ujung dan gerak akan memberikan kapasitas dukung termobilisasi (mobilized capacity). Hasil Pengujian Angka penurunan yang diambil sebagai immediate displacement (perpindahan sesaat) saat beban mencapai kapasitas dukung dengan faktor keamanan (FK) = 2, dan tidak menyatakan penurunan konsolidasi. Beban kerja yang diharapkan per-tiang adalah 140 ton.

Dari hasil uji pembebanan dinamis meliputi kapasitas dukung termobilisasi, yang besarnya ditentukan oleh beban dan energi, maka kapasitas dukung termobilisasi dengan FK=2 yang dihasilkan dinilai memenuhi target beban rencana dengan penurunan (displacement) dan masih dalam batas yang aman.


Pengujian Ultrasonic

Pengujian terhadap Sambungan Las pada Tiang Pancang

Tujuan pengujian ultrasonic adalah melakukan pengujian terhadap kualitas las yang digunakan untuk menyambung dua pipa tiang pancang. Pengujian dilakukan dengan standart ANSI/AWS.DI.I (Structural Welding Code, 2002 Edition) dan Ultrasonic Examination Procedure for Steek Structure. (Doc No: UT22 HH).

Pengujian dengan menggunakan satu unit pesawat Ultrasonic model USK 7

Krautkramer dengan dilengkapi probe normal, probe sudut 70º Block kalibrasi V1 dan V2. Coupant yang digunakan adalah CMC. Pengujian material dengan metode ultrasonic digunakan gelombang transversal maupun longitudinal. Kedua gelombang tersebut dibangkitkan oleh suatu probe (transduser) yang juga berfungsi sebagai penerima gelombang.

Prisip dasar pengujian sambungan las tiang pancang dengan adalah dengan ultrasonic test merambatkan gelombang ultrasonic ke dalam material yang akan diuji melalui transducer probe.Apabila gelombang tersebut mengenai bidang yang tegak lurus dengan arah gelombang, maka akan dipantulkan kembali dan diterima oleh transducer probe dalam bentuk pulsa pada layar CRT (monitor ultrasonic) yang merupakan pulsa cacat (defecta) atau pulsa pantulan balik dari dinding belakang.

Pengujian Beban pada Tiang Pancang Baja

PDA test bertujuan untuk memverifikasikan kapasitas daya dukung tekan pondasi tiang pancang terpasang. Dari hasil-hasil pengujian akan didapatkan informasi besarnya kapasitas dukung termobilisir dengan faktor keamanan 2, dan dipakai untuk menilai apakah beban kerja rencana dapat diterima oleh tiang terpasang.

Pelaksanaan

Pengujian dilaksanakan sesuai ASTM D-4945, yang dilakukan dengan memasang dua buah sensor yaitu strain transduser dan accelerometer transduser pada sisi tiang dengan posisi saling berhadapan, dekat dengan kepala tiang. Kedua sensor tersebut mempunyai fungsi ganda, masing-masing menerima perubahan percepatan dan regangan. Gelombang tekan akan merambat dari kepala tiang ke ujung bawah tiang (toe) setelah itu gelombang tersebut akan dipantulkan kembali menuju kepala tiang dan ditangkap oleh sensor. Gelombang yang diterima sensor secara otomatis akan disimpan oleh komputer. Rekaman hasil gelombang ini akan menjadi dasar bagi analisa dengan menggunakan program TNOWAVE-TNODLT, di mana gelombang pantul yang diberikan oleh reaksi tanah akibat kapasitas dukung ujung dan gerak akan memberikan kapasitas dukung termobilisasi (mobilized capacity). Hasil Pengujian Angka penurunan yang diambil sebagai immediate displacement (perpindahan sesaat) saat beban mencapai kapasitas dukung dengan faktor keamanan (FK) = 2, dan tidak menyatakan penurunan konsolidasi. Beban kerja yang diharapkan per-tiang adalah 140 ton.

Dari hasil uji pembebanan dinamis meliputi kapasitas dukung termobilisasi, yang besarnya ditentukan oleh beban dan energi, maka kapasitas dukung termobilisasi dengan FK=2 yang dihasilkan dinilai memenuhi target beban rencana dengan penurunan (displacement) dan masih dalam batas yang aman.

Main Bridge

Konstruksinya terdiri dari pondasi bored pile 2,4 meter dengan panjang sekitar 80 meter, 2 Pylon kembar dengan ketinggian 140 meter dan lantai komposit double plane yang ditopang oleh cable stayed dengan bentang 192 m + 434 m + 192 m. Ketinggian vertical bebas untuk navigasi bentang utama adalah 35 meter.


Detail Segmen Main Bridge

16_1_spesifikasi

17_1_spesifikasiPembagian Lajur Jalan

Lebar Jembatan = 2 x 15.0 m
Lajur kendaraan = 2 x 2 x 3.50 m
Lajur lambat (darurat) = 2 x 2.75 m
Kelandaian maksimum = 3%

Lajur kendaraan

  • Kendaraan roda 4 terdiri dari 4 lajur cepat dan 2 lajur darurat
  • Kendaraan roda 2 terdiri dari 2 lajur

01_1_spesifikasi14_1_spesifikasi15_12spesifikasi Detail Pylon

Konstruksi Pylon bentang utama setinggi 146 meter, dengan menggunakan borepile berdiameter 2,4 meter dengan kedalaman 71 meter, Ketinggian vertikal bebas (untuk navigasi) bentang utama adalah 35 meter dari permukaan laut.





15_11_spesifikasi

Approach Bridge

Untuk bangunan atas menggunakan beton Presstressed Box Girder dengan bentang 80 meter sebanyak 7 bentang, baik untuk sisi Surabaya maupun sisi Madura. Sedangkan struktur bawah terdiri dari pondasi bored pile berdiameter 180 cm dengan panjang 60-90 meter

09_1_spesifikasi

07_1_spesifikasi

10_1_spesifikasi


Causeway

Terdiri dari 36 bentang untuk sisi Surabaya dan 45 bentang sisi Madura dengan panjang masing-masing 40 meter. Konstruksi bangunan diatas menggunakan PCI Girder. Sedangkan untuk bagian bawah menggunakan pondasi pipa baja bersiameter 60 cm dengan panjang rata-rata 25 meter untuk sisi surabaya dan 27 untuk sisi Madura.

05_1_spesifikasi 06_1_spesifikasi


Jalan akses

Sisi Surabaya
3_akses



Sisi Madura

4_akses

Casting Yard

Lokasi casting yard berada di Marina Shipyard, Desa Sidorukun, Gresik, dengan luasan sekitar 30.000m2 berada pada tepi laut dengan kedalaman yang mencukupi sehingga memudahkan loading/unloading material dari laut. Jarak dari casting yard ke lokasi proyek bentang tengah sekitar 12 km, yang dapat ditempuh sekitar 45-60 menit dengan speed boat.

5_akses 6_akses

Latar belakang Suramadu

Mengapa Bukan Jarak Terdekat?

Jarak terdekat tidak selalu menjadi titik terbaik. Dengan pertimbangan lalu-lintas, kondisi geologi, biaya, dan lingkungan sekitar, dipilih titik Kenjeran-Labang

PERTUMBUHAN ekonomi menjadi kunci penting dalam perkembangan sebuah wilayah. Propinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk mencapai 33 juta jiwa, menjadi salah satu propinsi dengan kerapatan penduduk yang padat. Sebagai pintu gerbang Indonesia Timur, Jawa Timur juga memegang kunci penting laju industri dan perdagangan, maka tak dapat ditolak jika jalur transportasi menjadi bagian penting laju roda industri.

Sementara di sisi lain, Pulau Madura yang menjadi bagian dari provinsi Jawa Timur, mengalami kondisi yang kurang menguntungkan. Laju pertumbuhan ekonomi lambat dan income perkapita tertinggal. Pergerakan jalur transportasi yang terhambat membuat pembangunan jembatan Suramadu dinilai penting sebagai pembuka awal. Dengan Jembatan Suramadu , yang akan menghubungkan Surabaya dengan Pulau Madura melalui jalan darat, diharapkan ketimpangan sosial dapat segera direduksi. Arus transportasi yang cepat dan efektif akan membuat perkembangan Madura segera melejit, bersaing dengan daerah-daerah lain. Tata wilayah dan tata guna lahan juga akan terbentuk secara proporsional.


Titik-titik Alternatif

Terpilih Titik Alternatif ke-3
Kita mungkin sering mendengar, mengapa Jembatan Suramadu dibangun di daerah Kenjeran Surabaya? Bukan di Perak, Sukolilo, atau Gresik? Dari hasil studi dan kajian yang dilakukan oleh BPPT pada saat studi awal, terdapat 4 pilihan lokasi Jembatan Suramadu, yaitu

Dan akhirnya yang terpilih adalah alternatif 3, Kenjeran - Labang. Pertimbangannya antara lain:
  • Lintasan kapal relatif kecil, lebih kecil dari 2000 GRT (Gross Registered Tonnase). Tidak mengganggu kebutuhan manuver kapal serta jauh dari lintasan feri. Kedalaman laut rata-rata 17 meter dan kondisi geologi memungkinkan biaya konstruksi yang lebih rendah.
  • Kedua ujung jembatan merupakan daerah yang relatif datar dan terbuka, tidak banyak perumahan, dan dapat terhubung langsung dengan rencana jaringan jalan tol. Hasil studi amdal menunjukkan bahwa dampak yang ditimbulkan masih dapat dikendalikan dengan mengikuti rekomendasi RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) dan RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan). Di sisi Surabaya, ujung Jembatan Suramadu berlokasi di Kelurahan Tambak Wedi, Kecamatan Kenjeran dan pada sisi Madura terletak di desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, kabupaten Bangkalan. Di sisi Surabaya, ujung jembatan terletak pada daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0-3 meter di atas permukaan laut dan kemiringan 0-2%, dan kondisi lahan pasang surut.
Di sisi Madura, ujung jembatan berada pada daerah perbukitan dengan dengan ketinggian 2-17 meter di atas permukaan laut yang merupakan perbukitan dengan kemiringan 2-15%. Titik awal centerline jembatan di sisi Surabaya terletak pada koordinat 7° 12' 28,72" LS dan 112° 46' 40,47" BT dan titik awal di sisi Madura terletak pada koordinat 7° 09' 31,82" LS dan 112º 46'52,10" BT. Azimuth Jembatan sebesar 3° 46' 23".

Kondisi Eksiting Penyeberangan

Kondisi Penyeberangan yang Padat
Satu-satunya akses dari Surabaya ke Pulau Madura dan sebaliknya adalah menggunakan penyeberangan kapal feri Perak-Kamal. Kondisinya saat ini sudah sangat padat. Jumlah armada kapal feri yang digunakan sebanyak 18 buah, yang rata-rata usianya juga sudah uzur.

Feri-feri tersebut dikelola enam perusahaan, melalui tiga dermaga di masing-masing pelabuhan. Dengan jumlah feri dan penyeberang yang tak berimbang, menyebabkan waktu tunggu panjang. Dari survei yang dilakukan didapat volume lalu lintas feri per arah per hari di tahun 2002 adalah 315 buah kendaraan ringan, 1036 buah truk Kecil, 324 buah truk besar, 260 buah Bus dan 8128 buah sepeda motor. Kapasitas feri yang tersedia tersebut sudah jenuh yang diindikasikan dengan waktu tunggu rata-rata kendaraan yang terjadi di pelabuhan Ujung maupun Kamal adalah 30 menit. Kecuali untuk jenis sepeda motor yang lebih leluasa menembus antrean. Sedangkan waktu yang digunakan untuk menaikkan penumpang dari pelabuhan ke atas feri selama 15 menit. Waktu tempuh yang diperlukan untuk penyeberangan 30 menit, dan waktu untuk menurunkan.penumpang 15 menit. Total waktu dibutuhkan sekitar 60 menit atau satu jam. Waktu ini akan semakin panjang ketika akhir pekan atau musim liburan. Menjelang Lebaran dan Hari Besar Islam malah sering tak terkendali. Budaya "toron" (pulang kampung) bagi masyarakat Madura seakan menu wajib bagi mereka. Akibatnya, peningkatan mobilitas manusia dan barang tak dapat terhindarkan. Di lain segi kapasitas feri tidak bisa ditambah karena dapat mengganggu alur pelayaran yang ada. Keberadaan Jembatan Madura diperkirakan dapat mengurangi waktu tempuh sebesar 60 menit untuk kendaraan yang berasal dan menuju Kec. Kamal, Socah, dan Bangkalan, 110 menit untuk kendaraan yang tidak berasal dan menuju Kec. Kamal, Socah, dan Bangkalan.

Pembangunan Jembatan Suramadu tidak hanya sekedar membangun jembatannya saja tetapi yang lebih penting adalah meningkatkan perekonomian Madura yang tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Timur.